Aku Alyssa Saufika. Umurku 13 tahun. Aku memiliki
seorang kekasih bernama Andryos Aryanto. Aku biasa dipanggil Ify sedangkan
kekasihku dipanggil Debo. Aku tak tau dapat dari mana nama Ify. Begitu juga
Debo. Padahal di nama ga ada bacaan nama Ify. Bahkan Debo pun begitu. Aku kelas
8 dan kekasihku Debo kelas 9. Aku dan Debo berbeda tahun. Aku tahun 1997 dan
Debo tahun 1996. Tapi aku tak peduli. Aku tetap cinta Andryos Aryanto. Aku dan Debo bersekolah di SMP yang sama.
Hari ini aku bersiap-siap untuk berangkat menuju sekolah. Aku menuju kamar mandi dan setelah itu aku memakai baju seragam putih
biru. Aku menguncir rambutku dan tak lupa memakai pita berwarna biru
dirambutku.
Tiinn.. Tiiinn.. Tiiinn..
Suara klakson motor itu terdengar di depan rumahku. Aku
bergegas menuju ruang makan.
" Ma, Pa, Ify duluan ya.. Udah di tunggu.. "
kataku mengambil sebuah roti dan meminum sedikit susu.
" Itu cowok diluar pacar kamu? Bukan kan? "
tanya mama padaku.
" Iya, itu cowok siapa? Jangan bilang itu pacar
kamu.. " kata papa.
" Dia pacar Ify.. Udah setahun.. Kenapa? Ga setuju?
Ini kan hak Ify.. " kataku meninggalkan ruang makan.
Aku tak memperdulikan mama dan Papa. Aku tahu bahwa
mereka tak pernah menyetujui aku pacaran. Mereka hanya ingin aku pacaran dengan
Mario Aditya Haling. Anak pengusaha terkaya di Bandung. Tapi aku tak
menyukainya. Dia itu playboy. Walaupun dia juga bersekolah yang sama denganku.
Aku pergi menghampiri Debo di depan.
" Maaf say.. Tadi ada masalah di dalam.. Jadi aku lama..
Maaf ya.. " kataku pada Debo.
" Gapapa sayang.. Emangnya ada apa? " tanya
Debo padaku.
" Ga ada apa-apa kok.. Tadi Mama sama Papa cuma
nanyain tentang sayang.. " kataku.
" Emang nanyain apa? Pasti mereka ga setuju kan aku
pacaran sama kamu? Iya kan sayang? " tanya Debo.
" Iya.. Mereka setujunya aku pacaran sama Rio..
" kataku.
" Apa? Rio playboy sekolah itu?*maavRise just story*
emang mama sama papa kamu ngapain sih nyuruh pacaran sama Rio? " tanya
Debo.
" sayang kan tau.. Orang tuaku itu matre.. Cuma pengen
harta.. Jelaslah.. Rio itu kan anak pengusaha kaya di Bandung.. Tapi tenang..
Ga ada yang bisa gantiin Andryos Aryanto ku tercinta.. :) " kataku pada
Debo.
" :) baguslah.. Makin sayang sama kamu.. " kata
Debo.
" Hehehe.. Jadi ke sekolah ga? Tar telat tau say" kataku.
" Iya sayang.. Ayo naik.. " kata Debo.
Aku menaiki motor Debo. Debo
menghidupkan motornya dan langsung menuju sekolah.
At School.
Debo memarkirkan motornya. Dan langsung mengajakku
memasuki sekolah. Debo meninggalkanku di depan kelas 8F. Debo langsung pergi
menuju kelas 9I. Aku memasuki kelasku. Rio tampak melirikku. Aku tak
memperdulikannya. Aku langsung duduk di bangkuku dan menghampiri sahabatku
Sivia. Rio menghampiriku.
" Hey Via.. " sapaku pada Sivia.
Rio memberikan isyarat pada Sivia untuk pergi. Sivia
langsung meninggalkanku. Karena tak ada satu orang pun yang berani melawan Rio.
Alasannya, karena Papa Rio donatur disekolah ini. Jadi siapapun yang berani
ngelawan Rio bakalan di keluarin dari sekolah ini. Tapi Rio tidak melakukan itu
padaku. Walau aku tak pernah memperdulikannya.
" Hallo cantik.. " sapa Rio padaku.
" Jangan ganggu aku deh.. Tolong.. " kataku
pada Rio.
" Kamu kenapa sih? Kok kayak gini sama aku? "
tanya Rio.
" Heh.. Mario Aditya Haling.. Kamu ga mikir
gimana perasaan cewek yang udah kamu mainin.. Pikirin perasaan Shilla, Dea sama
Agni.. Kamu ga pernah mikirin perasaan mereka yang kamu mainin.. Dasar playboy..
Jangan ganggu aku.! " kataku pada Rio.
" Eh, bisa ga sih ga usah bawa nama Shilla, Dea sama
Agni.. Kalo gue bisa pacaran sama loe.. Udah pasti gue bakal setia dan berhenti
jadi playboy.. " kata Rio.
" Whatever.. Itu terserahmu.. Aku ga peduli sama apa
pun yang kamu lakuin.. " kataku.
" Uuhh.. Ya udah.. Whatever too! " kata Rio
meninggalkanku.
Sivia kembali menghampiriku.
" Fy, si Rio kenapa sih? Kamu ga suka sama Rio? Tapi
kalo Rio dapetin kamu.. Rio katanya janji ga akan jadi playboy lagi.. "
kata Sivia.
" Udah deh Via.. Ga usah ngebahas Rio.. Kuping gue
panas tau.. " kataku pada Sivia.
" Ih, ngambek.. Iya deh Ifyku tersayang.. Cuma
Andryos Aryanto kan yang ada dihatimu? " tanya Sivia.
Aku menanggukkan kepalaku. Aku memiliki firasat buruk
yang terus mengganggu pikiranku. Aku terus memikirkan firasat buruk terhadap
Debo. Aku berharap tak terjadi apa-apa pada Debo. Jam menunjukkan waktu
istirahat.
Teeett... Teeett... Teeett...
Bel istirahat itu berbunyi. Aku keluar kelas bersama
Sivia dan menuju kelas 9I.
At 9I class
Aku memanggil Cakka. Dia adalah salah satu teman Debo.
" Sst, Cak.. Sini.. " panggilku melambaikan
tangan.
Cakka menoleh ke arahku dan langsung menghampiriku.
" Hey kak.. Kenapa? " tanya Cakka padaku.
" Debo kemana? " tanyaku.
" Oh, daritadi jam 8... Debo ijin ke UKS.. Katanya
dia lagi sakit.. " kata Cakka.
" Hah? Debo sakit? Dia sakit apa? " tanyaku.
" Udah Fy.. Kita susul Debo ke UKS aja.. " kata
Sivia.
" aku ga tau Debo sakit apa.. Yang jelas tadi dia
mimisan.. Ga tau aku kak.. " kata Cakka.
" Ya udah.. Makasih Infonya ya Cakka.. "
kataku.
" Sama-sama kak.. " kata Cakka kembali ke
tempat duduknya.
Aku langsung menuju UKS. Aku sangat mengkhawatirkan
keadaan Debo saat ini. Aku bergegas menuju UKS.
At UKS
aku membuka pintu UKS. Tampak Debo tertidur pulas diatas
kasur UKS. Aku menghampirinya. Air mataku seakan menetes membasahi pipiku.
Sivia mencoba menenangkanku. Debo terbangun dan tersenyum ke arahku dengan
wajah yang nampak pucat. Aku menahan air mataku yang mulai menetes membasahi
pipi. Aku tak sanggup menangis di depan Debo.
" Usap air matamu.. Dekap erat tubuhku.. Tatap aku..
Sepuas hatimu.. " kata Debo padaku.
" Maksud kamu apa say? " tanyaku pada Debo.
" Nikmati detik demi detik yang mungkin kita tak
bisa rasakan lagi.. Hirup aroma tubuhku yang mungkin tak bisa lagi tenangkan
gundahmu.. Gundahmu.. " kata Debo lagi.
" Say.. Jangan ngomong gitu dong.. " kataku
meneteskan air mata.
" Sayang, andaikan kalo aku pergi saat ini.. Aku
ingin nemenin kamu di detik-detik terakhirku bersama kamu.. Kamu jangan
nangis.. Kamu bisa nikmatin detik terakhir bersamaku.. " kata Debo.
" Deb, kamu ngomong apa sih? Jangan tinggalin aku..
Aku sayang sama kamu.. " kataku.
" Aku juga sayang sama kamu.. Aku juga ga mau ini
terjadi terhadapku.. Karena tak mudah bagiku untuk mendapatkan cinta tulus
darimu.. Aku ingin selalu bersamamu.. Tapi aku ga kuat Fy.. " kata Debo.
" Deb, emang kamu sakit apa? " tanya Sivia.
" Iya say.. Kamu sakit apa? Tolong jangan tinggalin
aku.. Aku ga sanggup hidup tanpa dirimu disisiku.. " kataku.
Aku memeluk erat Debo. Sivia ikut meneteskan air matanya
karena melihatku dengan Debo. Aku menangis di pelukan Debo. Aku tak ingin
kehilangan Debo. Kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupku. Bagiku
Debo adalah penyemangat hidup dan pencerah hari-hariku. Tanpa Debo disisiku.
Membuatku tak semangat hidup. Debo menghapus air mataku dan mencium keningku.
" Maafin aku ya Fy.. Selama ini sembunyiin
penyakitku dari kamu.. Maafin aku.. Aku menderita penyakit kanker darah.. Dan
umurku udah ga lama lagi.. " kata Debo.
" Kamu ga boleh ngomong gitu.. Kamu masih bisa
sembuh.. Aku yakin.. " kataku.
" Mustahil buat sembuh.. " kata Debo.
" Mana Debo yang dulu aku kenal? Mana? Debo yang
dulu itu selalu ceria dan ga pernah putus asa kayak gini.. Jangan buat aku
kecewa.. " kataku.
Debo tersenyum ke arahku. Aku harap itu bukan senyuman
terakhirnya untukku. Aku tak ingin kehilangan Debo. Kondisi Debo semakin parah.
Aku membawa Debo ke rumah sakit bersama Sivia.
At Hospital
Debo langsung dibawa ke UGD. Aku menemaninya.
" Nyanyikan lagu indah..Sebelum ku pergi dan mungkin
tak kembali..Nyanyikan lagu indah..Tuk melepas ku pergi dan tak kembali..
" kata Debo menyanyikan lagu untukku.
" Tapi ku tak bisa.. Jauh.. Jauh darimu.. Ku tak
bisa.. Jauh darimu.. " kataku.
" Makasi Fy.. Makasi karena kamu selama ini udah
bahagiain aku.. Makasi karena kamu udah jadi pacarku selama ini.. Aku ga akan
pernah lupain kamu.. Sampai kapanpun.. Selamanya.. " kata Debo.
Debo menutup matanya. Aku menangis dan langsung menutup mataku.*ceritanya
ikut Debo* Sivia menghampiriku.
" Fy, Ify.. Bangun Fy.. Suster.. Dokter.. "
panggil Sivia.
Dokter dan Suster langsung memasuki ruangan itu. Dokter
itu geleng-geleng kepala.
" Maaf dik.. Kedua anak ini sudah pergi.. "
kata Dokter itu pada Sivia.
" Enggak.. Ga mungkin.. Ify.. Kenapa loe ninggalin
gue.. Kenapa loe harus nyusul Debo? Kenapa? Tuhan, aku ga sanggup bila harus
kehilangan Ify.. " kata Sivia menangis.
" Sudah dik.. Jangan nangis.. Relain kepergian
mereka.. " kata suster pada Sivia.
Di pemakaman--
Sivia menangis tak henti-henti melihat kepergianku
bersama Debo. Aku merasa sedih. Tapi aku harus lakuin apapun demi Debo. Bahkan
aku rela mati untuk dia. Sivia menaburkan bunga diatas nisan bertuliskan Alyssa
Saufika Umari beserta nisan Andryos Aryanto. Aku hanya bisa menyaksikan dari
atas sini. Bersama Debo.
The END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar